Menu
📱 Lihat versi lengkap (non-AMP)
Islamic Akhlak Keluarga Kisah Islami

Kisah Cinta dalam Islam yang Direstui Allah

Editor: Hendra WIjaya
Update: 12 February 2026
Baca: 4 menit

Kisah Cinta dalam Islam yang Direstui Allah

Islam mengajarkan bahwa cinta adalah fitrah manusia yang diciptakan Allah. Namun, cinta dalam Islam bukan cinta yang liar dan tanpa batasan, melainkan cinta yang terarah, terkontrol, dan dalam koridor syariat Islam. Kisah-kisah cinta dalam Islam menunjukkan bagaimana seharusnya hubungan suami istri yang direstui Allah.

Cinta Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Aisyah Radiallahu Anha

Kisah cinta antara Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Aisyah Radiallahu Anha adalah kisah cinta terindah dalam sejarah Islam. Nabi sangat mencintai Aisyah dan sering menunjukkan kasih sayangnya. Suatu ketika, Nabi bertanya kepada Aisyah: “Wahai Aisyah, bagaimana kecintaanmu kepadaku?” Aisyah menjawab: “Seperti tali yang menggantungkan daging.” Nabi berkata: “Dan aku kepadamu seperti tali yang menggantungkan daging.”

Nabi sering menghabiskan waktu bersama Aisyah, bermain, bercanda, dan bercakap-cakap. Meski Nabi adalah pemimpin umat yang sangat sibuk, beliau tetap meluangkan waktu untuk istrinya. Ini menunjukkan bahwa suami harus tetap memperhatikan istrinya meski sibuk dengan urusan dunia.

خُيِّرْتُ فَاخْتَرْتُكِ

Artinya: “Aku diberi pilihan (oleh Jibril antara dunia dan akhirat), dan aku memilihmu (dunia untuk berada bersamamu lebih lama).” (HR. Muslim no. 1478)

Cinta Khadijah Radiallahu Anha dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam

Sebelum Aisyah, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam memiliki istri pertama yang sangat dicintai, yaitu Khadijah binti Khuwailid Radiallahu Anha. Khadijah adalah wanita yang sangat mulia, kaya, dan berakhlak terpuji. Beliau menikahi Nabi ketika Nabi masih muda dan belum diangkat menjadi rasul.

Khadijah sangat mencintai Nabi dan mendukungnya dalam segala hal. Ketika Nabi pertama kali menerima wahyu dan merasa takut, Khadijah menenangkannya dan meyakinkannya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Khadijah adalah istri yang setia, sabar, dan pengorbanan.

Nabi sangat menyayangi Khadijah hingga setelah beliau wafat. Aisyah menceritakan bahwa Nabi sering mengingat Khadijah dan memuji-mujinya. Suatu ketika, Aisyah merasa iri dan berkata: “Apa yang istimewa dari Khadijah itu? Dia sudah tua dan digantikan oleh Allah dengan yang lebih baik bagimu.” Nabi marah dan berkata: “Tidak, demi Allah, Allah tidak menggantikannya dengan yang lebih baik bagiku. Dia beriman kepadaku ketika orang-orang kafir, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia menghabiskan hartanya untukku ketika orang-orang menghalang-halangiku, dan Allah memberiku anak darinya sedangkan yang lain tidak.”

رَزَقَنِي اللَّهُ حُبَّهَا

Artinya: “Allah memberiku kecintaan terhadapnya.” (HR. Muslim)

Cinta Ali bin Abi Talib dengan Fatimah Radiallahu Anha

Ali bin Abi Talib Radiallahu Anhu dan Fatimah binti Muhammad Radiallahu Anha adalah pasangan suami istri yang sangat dicintai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Fatimah adalah putri kesayangan Nabi, sedangkan Ali adalah sepupu dan menantu Nabi yang sangat dicintai.

Kisah pernikahan Ali dan Fatimah dimulai ketika Ali melamar Fatimah. Nabi menerima lamaran tersebut dan memberikan Fatimah kepada Ali dengan mahar sederhana. Kehidupan mereka sangat sederhana namun penuh cinta dan kasih sayang.

Ali dan Fatimah hidup dalam kesederhanaan. Mereka tidak memiliki harta yang melimpah, namun cinta dan keharmonisan mereka sangat besar. Fatimah sering membantu Ali dalam pekerjaan rumah tangga, sementara Ali sangat perhatian dan sayang kepada Fatimah.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sering mengunjungi rumah mereka dan melihat kebahagiaan yang mereka miliki. Nabi berdoa untuk mereka agar Allah memberkahi rumah tangga mereka. Dari pernikahan ini lahirlah Hasan dan Husein, cucu-cucu kesayangan Nabi.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Artinya: “Sesungguhnya wali-walimu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat sambil mereka tunduk (kepada Allah).” (QS. Al-Maidah: 55)

Cinta Suami Istri dalam Pandangan Islam

Islam mengajarkan bahwa hubungan suami istri harus didasarkan pada cinta, kasih sayang, dan rahmat. Allah berfirman dalam Al-Quran:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk saling menenangkan dan saling mencintai. Cinta dalam pernikahan Islam bukan cinta yang liar, tetapi cinta yang terarah kepada Allah dan dalam batas-batas syariat.

Kisah Cinta Para Salaf

Para salaf (generasi awal Islam) juga memiliki kisah-kisah cinta yang sangat indah. Umar bin Khattab Radiallahu Anhu sangat mencintai istrinya dan sering memuji-mujinya. Umar berkata: “Seorang laki-laki harus seperti pelayan di rumahnya. Ketika dia melihat sesuatu yang perlu dikerjakan, dia mengerjakannya.”

Hasan Al-Basri, ulama besar tabi’in, juga memiliki kisah cinta yang indah dengan istrinya. Suatu ketika, istrinya bertanya: “Apakah engkau mencintaiku?” Hasan menjawab: “Tidakkah engkau melihat bahwa aku selalu memperhatikanmu dan menjagamu?”

Adab Cinta dalam Islam

Islam mengajarkan adab-adab dalam bercinta, antara lain:

1. Cinta karena Allah

Cinta harus didasari oleh kecintaan kepada Allah. Suami mencintai istri karena Allah, dan istri mencintai suami karena Allah. Cinta yang karena Allah akan abadi dan diberkahi.

2. Dalam Batas Syariat

Cinta harus dalam batas-batas syariat Islam. Tidak boleh berbuat zina, tidak boleh berkhalwat (berduaan tanpa mahram), dan harus menikah dengan sah.

3. Menghormati dan Menyayangi

Suami harus menghormati dan menyayangi istrinya. Nabi bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kepada istrinya, dan aku adalah yang terbaik kepada istrinya.” (HR. Tirmidzi)

4. Sabar dan Pengorbanan

Dalam pernikahan, pasti ada ujian dan cobaan. Suami istri harus saling sabar dan saling berkorban. Cinta sejati adalah cinta yang mampu melewati ujian dan cobaan.

وَأَشْرِكْهُمْ فِي الْأَمْرِ

Artinya: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159)

Kesimpulan

Kisah cinta dalam Islam adalah kisah yang indah dan direstui Allah. Dari kisah-kisah cinta para Nabi, sahabat, dan salaf, kita belajar bahwa cinta sejati adalah cinta yang dalam koridor syariat, didasari oleh kecintaan kepada Allah, dan penuh dengan kasih sayang, pengorbanan, dan kesabaran.

Semoga Allah memberikan kita pasangan yang shaleh/shalehah dan mencintai kita karena Allah. Aamiin.

Artikel Terkait

Bagikan:

Link Postingan: https://www.tirinfo.com/kisah-cinta-dalam-islam/